07 April 2009

Apapun yang engkau kehendaki

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (Thaha: 132)

Kerjakan apa yang menjadi kewajibanmu terhadap kami, dan Kami melengkapi bagimu bagian dari Kami. Di sini ada dua: pertama yang dijamin oleh Allah, maka jangan menuduh (su’uz zhan) terhadap Allah. Kedua yang dituntut oleh Allah, maka jangan kau abaikan.

Ibrahim Alkhawwash berkata: jangan memaksa diri untuk apa yang telah di jamin (di cukupi) dan jangan menyia-nyiakan (mengabaikan) apa yang diamanatkan (ditugaskan) kepadamu.

Firman Allah: Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendakiNya dan memeilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka untuk memilih.

Anas ra. Berkata: Tiada seorang berdoa, melainkan pasti diterima oleh Allah doanya,…dst

Abul Abbas Almasri ketika ia sakit, dating seorang menjenguknya dan berkata kepadanya: Semoga Allah menyembuhkan kau (Afakallahu). Abul Abbas diam tidak menyahuti kata-kata itu.Kemudian orang itu berkata lagi: Allah Yu’aafika. Maka dijawab oleh Abul Abbas: Apakah kau kira saya tidak minta ‘afiyah kepada Allah, sungguh saya telah minta ‘afiyah, dan penderitaanku ini termasuk ‘afiyah, ketahuilah Raslullah saw minta ‘afiyah dan berkata: Selalu bekas makanan khaibir itu terasa olehku, dan kini masa putusnya urat jantungku.

Abu bakar Assidiq minta ‘afiyah dan menderita kesakitan, Umar bin Khattab minta ‘afiyah dan mati terbunuh. Usman bin Affan juga minta ‘afiyah dan juga mati tertikam. Ali bin Abi Thalib minta ‘afiyah juga mati terbunuh.

Maka bila kau minta ‘afiyah kepada Allah, mintalah menurut apa yang ditentukan oleh Allah untukmu, sebaik baiknya seorang hamba ialah yang ‘menyerah’ menurut kehendak Rabbnya, dan mempercayai bahwa yang diberi Rabbnya itulah yang terbaik baginya meskipun tidak cocok dengan hawa nafsunya.

Allah melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Ankabut : 62)

04 April 2009

Lima Poin Pendidikan Anak Dalam Islam


oleh Siti Aisyah Nurm

Apakah yang menjadi hal-hal terpenting bagi seorang bunda dalam mendidik buah hatinya?

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

Hal pertama Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185)

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya.
Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.

Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yang terakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT.
Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) Pendidikan Kejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.

Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini:
Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam, (SAN)

Catatan:
- Lima Poin Pendidikan Anak: -1.Paradigma sukses-2.Mengenal Tahapan dan Sifat-3.Metode-4.Isi-5.Target.
- Buku Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) diterjemahkan dengan judul “Sistem Pendidikan Islam” terbitan Al-Ma’arif Bandung, dan buku Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam) diterjemahkan dengan judul Pendidikan Anak Dalam Islam.

17 Maret 2009

Ketika Doa Tidak Dikabulkan…

Sayyidina Ali berkata, “Sesungguhnya hatimu telah berkhiaant kepada Allah dengan delapan hal, yaitu:

1. Engkau beriman kepada Allah, mengetahui Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya. Maka, tidak ada manfaatnya keimananmu itu.

2. Engkau mengatakan beriman kepada Rasul-Nya, tetapi engkau menentang sunnahnya dan mematikan syari’atnya. Maka, apalagi buah dari keimananmu itu?

3. Engkau membaca Al Qur’an yang diturunkan melalui Rasul-Nya, tetapi tidak kau amalkan.

4. Engkau berkata, “Sami’na Wa Aththa’na (Kami mendengar dan kami patuh), tetapi kau tentang ayat-ayatnya.

5. Engaku menginginkan syurga, tetapi setiap waktu melakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari syurga. Maka, mana bukyi keinginanmu itu?

6. Setiap saat engkau merasakan kenikmatan yang diberikan oleh Allah, tetapi tetap engkau tidak bersyukur kepada-Nya.

7. Allah memerintahkanmu agar memusuhi syetan seraya berkata, “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh bagi(mu), karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanay mengajak golongan supaya mereka menjadi penghuni neraka yang nyala-nyala” (QS. Al Faathir [35] : 6). tetapi musuhi setan dan bersahabat dengannya.

8. Engkau jadikan cacat atau kejelekan orang lain didepan mata, tetapi kau sendiri orang yang sebenarnya lebih berhak dicela daripada dia.

14 Maret 2009

Review Kecintaan anak pada kitabullah, menyelamatkan generasi Islam

by :TIM Redaksi Media Muslim.Info

Para Dai, para khotib, para aktifis Islam telah berkali-kali menyampaikan bahwa anak adalah generasi Islam masa depan yang harus kita jaga dan kita tanamkan Aqidah dan Akhlaq Islam semenjak dini. Namun disatu sisi (bahkan juga terdapat dari kalangan penyeru tadi), sering secara sadar atau tidak sadar, telah memunculkan upaya untuk merusak generasi Islam tersebut. Mulai dari acara-acara lomba nyanyi anak "Islam", lomba fashion show anak "Islam", dan masih banyak acara-acara lainnya yang selalu menggunakan label Anak "Islam".

Begitu mudahnya kita menemui anak-anak Islam dengan lancar menyenandungkan lagu-lagu, bahkan nyanyian orang dewasa. Dan begitu asingnya anak-anak yang mengenal Agamanya, yang bisa membaca Al Qur'an dengan baik yang benar, yang mengetahui tentang Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam berserta tuntunannya.

Mengenai senandung, sebenarnya perkara ini bukanlah sesuatu yang aneh karena jauh sebelumnya Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam telah mengabarkannya, yang artinya: “Akan ada di kalangan ummatku suatu kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan alat musik.” (HR: Bukhari dan Abu Daud)

Asy Syaikh Jamil Zainu berkata tentang Hadits ini: “Bahwasannya akan ada suatu kaum di kalangan Muslimin yang mereka meyakini bahwa zina, memakai sutera asli, minum khamar, dan musik itu halal, padahal haram.” (Kaifa Nurabbi Auladana 47)

Mari kita renungkan didalam hati ini, apakah yang telah kita lakukan terhadap anak-anak, adik-adik, kemenakan, dan generasi muda Islam yang pembinaan dan pendidikannya berada dibawah tanggung jawab kita. Sudakah kita berupaya keras mendekatkan mereka dengan Syariat Islam? Adakah upaya kita menanamkan kecintaan anak terhadap Kitabulloh serta himbauan dan tuntunan untuk mengamalkannya? Ataukah kita hanya sekedar memberikan tawa gembira kepada mereka dengan mengadakan acara lomba senandung anak "Islam" atau lomba fashion show anak "Sholeh/ah"?

Jika kita ingin melihat sejarah umat Islam ini lebih dalam lagi, maka kita akan menengok generasi muda Islam terdahulu yaitu di zaman Salafus Sholeh (zaman para shohabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in). Sungguh alangkah indahnya di masa itu.

Memang sungguh sulit dan tidak bisa apabila generasi kita sekarang dibandingkan dengan mereka. Sungguh jauh sekali kita dibanding mereka, tapi seharusnya kita berusaha meneladani mereka sebagaimana Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya telah memerintahkan hal tersebut.

Generasi terbaik ummat ini telah memberikan teladan pada kita dalam masalah ini. Betapa tingginya semangat mereka dalam mengarahkan perbuatan anak-anak mereka agar selaras dengan Kitabullah. Kita bisa dapatkan para shahabat telah mengajarkan Al Qur’an sejak dini pada anak-anak mereka dan semua itu tidak lepas karena ittiba’ mereka kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “… akan tetapi jadilah kalian orang-orang rabbani karena apa yang kalian ajarkan dari Al Kitab dan karena yang kalian pelajari darinya.” (QS: Ali Imran: 79)

Dari Hadits Utsman radhiallahu 'anhu secara marfu’ bahwa Rasululloh Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda, yang artinya: “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya.” (HR: Bukhari dalam Shahih-nya nomor 5027)

Maka berikanlah perkara-perkara yang baik kepada mereka, ajarkan dan biasakanlah pada mereka sejak dini Kalamullah agar mereka terbiasa melantunkannya dan timbul kecintaan pada hati-hati mereka dengan memahamkan makna-maknanya.

Al Imam Al Hafidh As Suyuthi berkata: “Mengajarkan Al Qur’an pada anak-anak merupakan salah satu dari pokok-pokok Islam agar mereka tumbuh di atas fitrahnya dan agar cahaya hikmah lebih dahulu menancap pada hati-hati mereka sebelum hawa nafsu dan sebelum hati-hati mereka dihitami (dipenuhi) oleh kekotoran maksiat dan kesesatan” (Manhajut Tarbiyatun Nabawiyyah lith Tifl 104)

Mengajarkan Al Qur’an bukan sekedar membaca lafadh-lafadhnya dan menghapalkannya, namun melalaikan makna-makna yang terkandung di dalamnya. Seharusnya kita mengajarkan Al Qur'an dengan disertai keterangan yang mencukupi.

Salah satu sejarah yang bisa kita jadikan pelajaran bagi pendidikan anak Islam yang merupakan buah dari terasahnya kecerdasan dan kepekaan terhadap kandungan makna Al Qur’an adalah kisah pendidikan Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash.

Dia berkata kepada ayahnya, Sa’ad bin Abi Waqqash: “Wahai ayahku, bagaimana pendapat ayah tentang firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: “Yakni orang-orang yang lalai dalam shalat mereka.” (QS: Al Ma’un: 6)

Mush’ab melanjutkan: “Siapa di antara kita yang tidak lalai dan tidak terlintas dalam benaknya perkara lain selain shalat sedikitpun?”

Maka sang ayah --Sa’ad bin Abi Waqqash-- menjawab: “Bukan begitu, wahai anakku. Yang dimaksud lalai dalam firman Alloh tersebut adalah menyia-nyiakan waktunya.”(Riwayat Abu Ya’la dalam Musnad-nya 2/63. Manhaj Tarbiyah lith Thifl. 108)

Demikian juga kisah Abu Sulaiman Dawud bin Nashr Ath Tha’i. Ketika ia berumur lima tahun ayahnya menyerahkannya pada seorang pengajar adab. Maka pengajar tersebut memulai dengan mengajarkan Al Qur’an. Ketika sampai pada surat Al Insan dan dia telah menghapalnya, suatu hari ibunya melihatnya sedang menghadap dinding memikirkan sesuatu sambil jarinya menunjuk-nunjuk. Maka ibunya berkata: “Bangkitlah wahai Dawud, bermainlah bersama anak- anak yang lain!” Dawud tidak menyahut perintah ibunya hingga ketika sang ibu mendekapnya, Dawud baru bereaksi, ia berkata: “Ada apa denganmu, wahai ibuku?”

Kata ibunya : “Di manakah pikiranmu, wahai anakku?”
“Bersama hamba-hamba Alloh,” jawab Dawud.
“Di mana mereka?” Tanya sang ibu.
“Di Surga,” jawab Dawud singkat.
Ibunya bertanya lagi : “Apa yang sedang mereka perbuat?”
Mendengar pertanyaan itu Dawud membacakan surat Al Insan ayat 13 sampai 21 yang mengabarkan kenikmatan Surga, yang artinya: “Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) mentari dan tidak pula dingin yang menyengat. Dan naungan (pohon-pohon Surga itu) dekat di atas mereka dan buah-buahannya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan pada mereka bejana-bejana dari perak dan gelas-gelas yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam Surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah zanjabil. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air Surga yang dinamakan Salsabil. Dan mereka dikelilingi pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila engkau melihat mereka, engkau akan mengira mereka adalah mutiara yang bertaburan. Dan apabila engkau melihat di sana (Surga) niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka (penghuni Surga) memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang yang terbuat dari perak, dan Rabb mereka memberikan kepada mereka minuman yang bersih.” (QS: Al Insan: 13-21)

Subhanallah! Di usia mereka yang masih belia akal-akal mereka telah terasah untuk memikirkan ayat-ayat Alloh Subhanahu wa Ta’ala, men-tadabburi-nya. Fitrah yang Alloh Subhanahu wa Ta’ala berikan pada mereka terjaga bahkan terkuatkan dengannya. Bagaimanakah dengan anak-anak yang berada dibawah tanggung jawab kita?

Upayakanlah yang didengarkan anak-anak pertama kali adalah kalimat-kalimat Alloh Subhanahu wa Ta’ala dan memahamkan mereka sehingga mereka terbiasa mendengar dan mengucapkannya, dengan begitu hati-hati mereka menjadi cinta terhadap Al Qur’an dan mereka tumbuh di atasnya. Membiasakan anak untuk menghapal Al Qur’an sejak dini juga merupakan suatu pendidikan yang baik. Semoga Alloh Subhanahu wa Ta’ala mempermudah jalan bagi kita untuk mendidik generasi penerus Islam. Wallahu A’lam Bishshawwab.

(Sumber Rujukan: Kaifa Nurabbi Auladana, Asy Syaikh Jamil Zainu; Manhajut Tarbiyatun Nabawiyyah lith Thifl, Muhammad Nur Suwaid.; Tarbiyatul Abna’, Asy Syaikh Mushthafa Al ‘Adawi)

11 Maret 2009

Orangtua, Anak dan Sekolah

Jangan langsung cemas saat melihat anak kita tak cepat faham saat kita membantu menerangkan pelajaran padanya. Jangan pula langsung memvonis, ada yang kurang dengan otaknya atau mencapnya sebagai anak bandel karena tak memperhatikan. Kita harus ingat bahwa otak memiliki metode bereda-beda untuk bisa belajar dengan efektif. Ada yang lebih cocok dengan mendengarkan, ada yang dengan membaca dan adapula yang baru bisa belajar setelah praktek nyata di lapangan.
Kita juga tak perlu panik secara berlebihan ketika melihat nilai akhir atau rapor anak kita yang 'bersahaja', dengan nilai-nilai seadanya. Sebab, bisa jadi ada kecenderungan, bakat atau talenta lain yang ia miliki. Lemah di pelajaran, tapi ia sangat piawai soal manajerial, sangat suka dengan niaga dan semua yang berkaitan dengan perdagangan. Atau juga ia memiliki jiwa petualang atau mungkin pintar dalam komputer dan senang dengan berbagai perkembangan teknologi dan banyak potensi lain.
Melihat dua realita seperti ini, pertama kita hanya perlu evaluasi dan mencoba menerapkan metode pembelajaran yang pas. Dan yang kedua, kita hanya perlu meluangkan waktu untuk lebih memperhatikannya. Mendalami kecenderungan dan bakat positifnya, untuk kemudian kita salurkan dan optimalkan.
Akan tetapi ketika kita melihat anak kita memiliki sense beragama yang tak seberapa, juga ketaatan pada aturan-Nya yang sangat kurang, maka inilah masalah kita yang sebenarnya. Malas shalat, enggan membaca al Quran atau bahkan tidak bisa membaca, suka mengungkapkan kata-kata kotor, perilaku yang cenderung brutal dan memberontak pada orangtua dan lain sebagainya. Melihat semua ini, kita harus berpikir bahwa ada yang salah dalam pendidikan mereka. Dan prosentase introspeksi lebih besar harus kita tujukan pada diri sendiri sebagai orang tua. Sebab, secara tanggungjawab ilahiyah, kita tidak mungkin menimpakan batu kesalalahan pada orang atau faktor lainnya.
Paling tidak ada dua hal yang perlu kita evaluasi. Pertama, seberapa besar perhatian dan respon kita pada hal-hal yang sifatnya diniyah? Sebab, tak jarang, sebagian kita lebih tertarik dan cenderung memberikan apresiasi hanya pada prestasi-prestasi yang diraih anak dalam urusan duniawi. Kita beri hadiah saat ia juara menyanyi, kita puji saat ia pandai menguasai teknologi. Tapi prestasi-prestasi yang sifatnya diniyah, kita tak pernah ambil peduli. Dari perhatian yang kita berikan, anak akan membuat klasifikasi; yang ini penting karena orangtua memberikan apresiasi dan yang ini tidak penting karena toh orang tua juga tak menganggapnya penting.
Kedua, sudahkah kita memilihkan lingkungan yang baik untuknya? Jika disekitar rumah buruk kondisinya, kita bisa menilai sendiri, seberapa besar proteksi yang telah kita berikan? Dan yang lainnya adalah tentang sekolah. Dalam memilih sekolah, kita harus benar-benar teliti dan hanya asal anak senang. Sebab, lingkungan sekolah memiliki pengaruh cukup besar pada anak.
Prinsip dasar yang harus kita pegang adalah, Allah menciptakan manusia untuk beribadah pada-Nya. Dan kita diberi anugerah anak, bukan lain adalah untuk membentuknya menjadi hamba-Nya yang shalih, itulah tujuan utamanya. Wallahua'lam.